4 Manfaat Air Kelapa, Bikin Deretan Penyakit Ini Ogah Mendekat

Mahavision, Jakarta – Saat merasa haus sebaiknya segera minum air putih.

Namun selain air putih, ada banyak minuman menyegarkan yang bisa membantu mengatasi rasa haus.

Baca selengkapnya: 10 manfaat minyak kelapa yang tak terduga untuk kesehatan kulit

Salah satu minuman populer yang bisa menghilangkan dahaga adalah air kelapa.

Jika dikonsumsi secara rutin, minuman ini juga memiliki khasiat yang baik dalam mengobati penyakit kronis seperti diabetes.

Baca selengkapnya: 4 manfaat rutin makan mentimun untuk membantu penyembuhan penyakit ini

Berikut penjelasannya seperti dilansir laman Genpi.co.1. Mengobati diabetes

Penelitian menemukan bahwa minyak kelapa dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan juga mengurangi stres.

Baca Juga: 5 Manfaat Air Garam, Bantu Kurangi Risiko Penyakit Ini.

Selain itu, air kelapa kaya akan magnesium sehingga dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin sekaligus menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2.2. Meningkatkan kesehatan jantung

Minum air kelapa dapat membantu mengurangi risiko serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan tekanan darah tinggi.

Air kelapa memberikan efek antitrombotik, sehingga dapat membantu mencegah penggumpalan darah, menurunkan kolesterol, yang dapat mempengaruhi tekanan darah dengan cara menyumbat pembuluh darah. Memfasilitasi pencernaan

Jika Anda meminum air kelapa setiap hari, maka dapat membantu melancarkan sistem pencernaan Anda secara alami.

Air kelapa kaya akan serat sehingga dapat bermanfaat untuk sistem pencernaan.

Air yang diambil dari satu buah kelapa mampu mengandung sekitar 9 persen dari asupan serat harian. Mengurangi pembengkakan

Kembung bisa disebabkan oleh asupan natrium yang tinggi dan air kelapa dapat membantu menguranginya.

Air kelapa kaya akan potasium, yang tampaknya membantu menetralkan natrium. (genpi/jpnn)

Baca artikel lainnya… 4 manfaat air kelapa hijau campur madu yang disukai wanita

Demi Eliminasi TB 2030, Menkes Budi Gunadi Sadikin Dorong Percepatan Pengembangan Vaksin Tuberkulosis Baru

Mahavision, Jakarta – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan penting untuk mempercepat vaksinasi baru terhadap tuberkulosis (TB). Menurutnya, vaksin anti tuberkulosis dapat menjadi solusi yang hemat biaya dan bermanfaat untuk mengurangi dampak ekonomi akibat biaya layanan kesehatan dan hilangnya produktivitas masyarakat.

Budi juga mengatakan vaksin TBC sudah bisa digunakan di Indonesia mulai tahun 2028 dengan tujuan menghilangkan TBC pada tahun 2030.

“Pengembangan vaksin harus menjadi fokus,” kata Menteri Kesehatan Budi pada pertemuan Dewan Kemitraan Tuberkulosis (STP) ke-37 di Brasilia, Brasil, pada Minggu, 11 Februari 2024.

Sebagai anggota dewan dari negara yang mengidap penyakit tersebut, Menteri Kesehatan Budi menyarankan agar anggota negara G20 berinvestasi cukup untuk memastikan ketersediaan vaksin baru melawan tuberkulosis dalam tiga tahun ke depan.

Saat ini, satu-satunya vaksin untuk melawan tuberkulosis adalah vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG), yang memberikan perlindungan parsial pada bayi dan anak kecil. Namun perlindungan tersebut belum cukup untuk mencegah tuberkulosis pada anak dan orang dewasa.

Pengembangan vaksin TBC untuk segala usia diperlukan untuk mencapai penurunan angka kejadian TBC sebesar 90 persen dan penurunan angka kematian TBC sebesar 95 persen. Selain itu, vaksin TBC dapat mencegah penyebaran TBC yang resistan terhadap obat.

Tuberkulosis resistan obat adalah jenis tuberkulosis yang tidak merespons pengobatan standar yang efektif dalam mengobati infeksi tuberkulosis.

Banyak pilihan vaksin TBC yang saat ini sedang dikembangkan untuk mencegah TBC pada kelompok umur yang berbeda, menggantikan atau melengkapi vaksinasi BCG, mencegah kekambuhan pada pasien yang telah menyelesaikan pengobatan, atau memperpendek durasi pengobatan.

Indonesia terlibat aktif dalam tiga uji klinis vaksin TBC. Diantaranya adalah vaksin yang dikembangkan oleh Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) dengan menggunakan teknologi protein rekombinan.

Selain itu, vaksin ini tersedia melalui kemitraan dengan perusahaan farmasi Tiongkok CanSinoBio dan perusahaan biofarmasi Indonesia Etana, yang menggunakan vektor virus.

Terakhir, ada vaksin yang dikembangkan menggunakan teknologi mRNA oleh perusahaan bioteknologi Jerman BioNTech dan perusahaan farmasi Indonesia Biofarma.

“Saya yakin bahwa investasi ini tidak hanya akan menyelamatkan nyawa, tetapi juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” kata Menteri Kesehatan.